Catatan Dari Pekalongan, 3 Mei 2014



Peluncuran Ubuntu versi 14.04 LTS secara resmi oleh Forum Ubuntu Indonesia berlangsung di Kota Pekalongan. Yang sangat menarik adalah kehadiran walikota Pekalongan, MH Basyir Ahmad, sebagai salah satu pembicara dalam acara tersebut. Menarik karena walikota ini bukanlah orang dengan latar belakang IT, hanya seorang dokter yang memiliki berbagai kebijakan luar biasa untuk menerapkan Open Source di pemerintahannya.
Basyir menyampaikan bahwa pemerintah kota Pekalongan tetap konsisten sejak tahun 2006 menerapkan open source dalam pemerintahan. Hasilnya adalah pemerintah kota Pekalongan dapat menghemat sampai 12 Milyar rupiah per tahun untuk anggaran di bidang teknologi informasi. Penghematan sebesar itu bisa dialokasikan untuk kepentingan lain daripada harus mengeluarkan uang membeli lisensi sistem operasi berbayar; jika gratis saja mendapatkan rumah dan seluruh isinya, mengapa harus mengeluarkan uang ratusan bahkan jutaan rupiah hanya untuk membeli sebuah jendela.
Dalam acara pembukaan, Basyir menyampaikan bahwa kota Pekalongan menempati urutan pertama kota pengguna Open Source terbesar di Indonesia bahkan di sisi pemerintahan. Semuanya dimulai dari tingginya tingkat pembajakan software di kota itu pada tahun 2006. Sang walikota mendapatkan solusi untuk menekan angka pembajakan software berbayar dengan cara menerapkan Open Source di semua perangkat IT yang dimiliki pemerintah kota. 
Penerapan Open Source pertama dilakukan di kantor Satpol PP, pegawai pemerintahan yang lebih banyak menggunakan fisik dalam menjalankan tugasnya itu pun berhasil dengan baik. Penerapan lebih lanjut di berbagai instansi lain dan berbagai peraturan walikota pun dibuat untuk mengikat penggunaan Open Source di kota itu. Hasilnya adalah Pekalongan mendapatkan predikat sebagai kota barometer nasional penerapan Open Source.

Saya membayangkan Unika Soegijapranata menerapkan hal yang sama di kampus ini; tentunya penghematan anggaran luar biasa dapat dicapai, angka pembajakan software berbayar oleh civitas akademika juga dapat ditekan. Sebagai institusi pendidikan, Unika memiliki tanggung jawab moral dalam menegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas penggunaan lisensi software berbayar. Ilmu Komputer sudah memulainya dari penggunaan Open Source di dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan itu hanya akan terjadi jika ada kemauan yang kuat dari kita semua.

'Kita punya uang untuk membeli sofware berbayar, namun sesungguhnya kita tidak bisa membeli kebebasan' - Marlon Leong


at Thursday, 15 May 2014 | 07:26:46 - Download this post as PDF

Written by admin on page Pojok TI







Total Visitors

92589

Category

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Twitter